Nyethe adalah sebuah kegiatan menggambar atau melukis di atas rokok dengan menggunakan media endapan kopi (dalam bahasa jawa: cethe). Berdasar cerita dari mulut ke mulut, kebiasaan nyethe dimulai oleh petani yang kehabisan wedang kopi. Istri biasanya mengirim makan dan wedang kopi ke sawah. Jika kemudian kopi habis padahal masih belum puas ngopi, petani mengoles-oleskan cethe ke rokok.
Awalnya,nyethe dikenal hanya di daerah Tulungagung, Jawa Timur. Kemudian, kebiasaan ini ternyata merambat ke daerah lain semisal Malang, Kediri, Surabaya dan kota-kota lain.
Pada perkembangannya, nyethe tidak hanya dilakukan ketika kopi sudah habis dan di gelas hanya tersisa cethe. Secangkir wedang kopi panas dituang ke lepek. Beberapa menit kemudian, air di pengalas gelas itu dikembalikan ke cangkir. Dapatlah cethe, untuk kemudian nyethe.
Saat ini sudah dikenal luas warung nyethe, warung yang menyediakan diri khusus untuk keperluan ini. Pemilik warung menyediakan cethe dalam lepek-lepek. Pengunjung tingggal mengoles.Para penyethe pun mengoleskan cethe ke batang rokok laksana membatik, dengan aneka motif, mulai dari garis-garis hingga hitam kelam. Bubuk kopi yang digunakan harus lembut. Biasanya, pe-nyethe mencampurkan sesendok teh susu kental manis pada cethe-nya. Tujuannya, agar ampas cepat menempel ke batang rokok. Sedangkan alat lukisnya adalah batang korek api.
Sebagian masyarakat berasumsi negatif dan menganggap bahwa nyethe merupakan aktivitas yang membuang-buang waktu (wasting time). Sebuah penelitian di Tulungagung pernah dilakukan untuk menganalisa hal ini. Fokus penelitian adalah untuk melihat pengaruh nyethe terhadap proses interaksi sosial masyarakat, dan; Bagaimana dampak nyethe terhadap pembentukan komunitas baru di masyarakat Tulungagung.
Hasil penelitian menunjukan bahwa terjadi interaksi sosial dari pengunjung yang berasal dari berbagai lapisan, baik dari kalangan tua maupun muda, berbaur menjadi satu. Disamping itu telah diketahui adanya pembentukan komunitas baru misalnya lomba nyethe atau sering disebut “Nyethe Competition” di berbagai tempat baik itu di warung-warung, di plasa atau dalam even-even peringatan hari besar.
INTERAKSI SOSIAL DAN KOMUNITAS BARU
Interaksi sosial didefinisikan sebagai tingkah laku sosial yang selalu dalam kerangka kelompok seperti struktur dan fungsi dalam kelompok. Juga, interaksi sosial merupakan suatu hubungan antara dua atau lebih individu manusia dimana kelakuan individu yang satu mengubah atau memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya. Dari interaksi sosial ini dapat ditarik kesimpulan mengenai aspek-aspek interaksi sosial yaitu adanya individu, adanya tujuan, adanya hubungan antar individu maupun kelompok, dan adanya hubungan dengan struktur dan fungsi kelompok.
Berdasarkan definisi ini, nyethe mempunyai kesamaan yang bisa menjadi dasar untuk menyatakan bahwa dalam kegiatan nyethe terdapat unsur-unsur interaksi sosial. Kesamaan itu adalah kegiatan yang lebih bersifat kelompok bukan secara individu, misalnya duduk berkelompok dan mengobrol.
Pertanyaan berikutnya adalah interaksi sosial yang bagaimana yang ada dalam kegiatan nyethe? Ada empat macam interaksi sosial yaitu komensialisme, parasialisme, mutualisme, dan sosiality. Dari keempat jenis interaksi sosial ini, nyethe masuk dalam kategori mutualisme dan sosiality.
Mutualisme adalah interaksi sosial yang saling menguntungkan bagi dua belah pihak. Dalam kegiatan nyete semua pihak mendapat keuntungan sesuai dengan peran dan tujuan masing-masing pihak yang terlibat, misalnya pemilik warung mendapat laba dari kopi dan rokok yang dijual sementara pngunjung mendapat kepuasan menikmati kopi dan rokok sambil nyethe di warung. Sesama pengunjung juga bisa saling berukar pendapat, informasi maupun sekedar ngobrol yang membuat masing-masing individu merasa sama-sama senang dan enjoy.
Sedangkan kategori sosiality adalah suatu interaksi sosial yang bersifat kemasyarakatan, bentuk interaksi sosial yang bersumber dari masyarakat yang ada dan berpengaruh pada masyarakat itu sendiri. Jika ditinjau dari segi historis, kegiatan nyethe tercipta dari kesenangan (hobi) masyarakat khisusnya perokok sebagai subyek pelaku, dan berpengaruh pada masyarakat itu sendiri secara sempit maupun masyarakat keseluruhan secara umum.
Para pengunjung warung cethe sebagai individu tidak bisa dilepaskan dari situasi warung dimana ia berada. Berkumpulnya beberapa pengunjung dalam satu tempat yang melakukan hal yang sama (nyethe) menjadikan tercipta situasi nyethe yang selanjutnya membentuk kelompok atau komunitas dalam satu tempat tersebut.
Situasi kebersamaan yang dihadapi para penyethe akan tumbuh dan mengarahkan tingkah laku secara spontan. Kelompok kebersamaan memiliki ciri-ciri: bertanggung jawab dalam waktu yang relatif pendek, para pesertanya berhubungan secara fisik, kurang adanya aturan yang terorganisir, dan interaksinya bersifat spontan.
Kelompok kebersamaan dalam aktivitas nyethe secara jangka panjang dapat membentuk komunitas baru di masyarakat Tulungagung yaitu komunitas cethe mania. Terdapat kegiatan-kegiatan yang mewadahi kreatifitas pelaku nyethe, misalnya lomba nyethe atau
nyethe kompetition se-kabupaten Tulungagung. Karena nyethe sudah menjadi kebiasaan para perokok khususnya di daerah Tulungagung, maka nyethe bisa dikatakan sebagai budaya perokok di daerah Tulungagung.
NYETHE TIDAK BUANG-BUANG WAKTU
Berdasarkan penelitian “pengaruh Kebiasaan Nyethe Terhadap Kehidupan Sosial Masyarakat Di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur” dapat ditarik kesimpulan bahwa asumsi negatif dari masyarakat yang menganggap nyethe adalah aktivitas yang membuang-buang waktu tidak selalu benar. Hal ini terbukti dengan adanya data hasil penelitian yang menunjukan bahwa kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada waktu nyethe bervariasi dan hanya sedikit yang mengandung unsur membuang-buang waktu.
Bahkan ada yang menganggap nyethe mempunyai unsur seni. Membuang-buang waktu atau tidaknya kegiatan nyethe sangat bergantung pada subyek pelaku nyethe itu sendiri.
Dari segi sosial budaya dan kemasyarakatan, nyethe merupakan cikal bakal terbentuknya suatu interaksi sosial yang lebih bersifat positif. Dari interaksi sosial tersebut selanjutnya terbentuk komunitas baru di masyarakat Tulungagung yang secara langsung maupun tidak langsung menciptakan budaya baru di kalangan masyarakat perokok di daerah Tulungagung.
Bacaan:
-Kebiasaan Nyethe Sebagian Warga Tulungagung, Harian Surya, Selasa 24 April 2007
-PENGARUH KEBIASAAN NYETHE TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL MASYARAKAT DI KABUPATEN TULUNGAGUNG, JAWA TIMUR,
www.pkm.dikti.net/pkmi_award_2006/pdf/pkmi06_128.pdf
Popularity: 8% [?]